Hadits Shahih Muslim No. 4990 | Bab
Hadits Shahih Muslim No. 4990 | Kitab Sifat Munafik dan Hukumnya
صحيح مسلم ٤٩٩٠: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي الثَّقَفِيَّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى هَذِهِ مَرَّةً حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيَّ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ تَكِرُّ فِي هَذِهِ مَرَّةً وَفِي هَذِهِ مَرَّةً
Shahih Muslim 4990: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami bapakku Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna -dan lafadh ini miliknya- telah mengabarkan kepada kami ‘Abdul Wahhab Ats Tsaqafi telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Orang Munafik itu bagaikan seekor kambing di antara dua kambing (yang bingung untuk menentukan mana yang harus diikuti) terkadang mengikuti yang ini dan terkadang mengikuti yang itu.” Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin ‘Abdurrahman Al Qariya dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Hadits yang serupa. Hanya saja dia menggunakan lafazh: ’takirru’ (pulang), bukan ’ta’iiru’.